Postingan

Prasangka: Sumber Berita Hoax Yang Merajalela

  Kalau ada lomba nasional yang pesertanya seluruh warga +18 tanpa seleksi, mungkin salah satu cabangnya adalah: berprasangka. Dan jujur saja, kita semua punya peluang masuk final. Hadits dari Abu Hurairah sebenarnya sudah cukup jelas, bahkan terlalu jelas: Nabi Muhammad ﷺ bilang, “Jauhilah prasangka, karena prasangka itu sedusta-dustanya ucapan…” yang kalau diterjemahkan ke bahasa sehari-hari kira-kira: “Stop sok tahu sebelum kamu benar-benar tahu.” Masalahnya, manusia itu makhluk yang alergi sama ketidaktahuan. Begitu ada celah informasi sedikit saja, kita langsung isi sendiri. Dan entah kenapa, isinya sering kali hal yang unfaidah. Teman lewat nggak nyapa? “Wah, sombong sekarang.” Duduk sendiri? “Pasti lagi ada masalah.” Ngobrol pelan sama orang lain? “Fix, lagi ngomongin gue.” Astaghfirulloh... Padahal bisa jadi… ya nggak ada hubungannya sama kita. Tapi otak kita ini kadang terlalu percaya diri untuk jadi pusat semesta. Yang menarik, para ulama seperti Al-Khattabi sebenarnya su...

Nabi yang “Ummi” dan Al-Qur’annya

  Waktu Dhuhur, 8 Ramadhan 1447 H. Matahari tidak terasa terik di halaman Pondok Al Iman Bulus. Al-Ustadz Hasan mengkaji Fadhlus Sholat was Salam ‘ala Rasulillah ringkasan dari Jala al-Afham fi Fadhl al-Shalah wa al-Salam karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Di muqaddimah disebut satu sifat Nabi ﷺ yang sering terdengar, namun jarang direnungi: ummi. Apa Makna “Ummi”? Mayoritas mufassir seperti dalam Tafsir al-Tabari dan Tafsir Ibn Kathir memahami ummi sebagai tidak membaca dan tidak menulis. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-‘Ankabut: 48: Nabi ﷺ tidak pernah membaca kitab sebelumnya dan tidak menulisnya dengan tangan beliau. Sebagian ulama memilih berhenti pada lafaznya tanpa memperluas makna, namun tetap dalam keyakinan Ahlus Sunnah bahwa beliau tidak belajar baca-tulis sebagaimana manusia pada umumnya. Lalu Bagaimana dengan Mudarasah Ramadhan? Dalam riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan bahwa setiap Ramadhan Nabi ﷺ bermudarasah Al-Qur’an bersama Jibril, dan pada tahun wafa...

Seni Melawan Setan dan Nafsu

  Melawan setan dan nafsu itu bukan soal adu kuat, apalagi pamer kesalehan. Lebih sering, ia adalah soal cara bersikap . Soal membaca situasi, mengatur ritme, dan tahu kapan harus melangkah meski hati ingin berhenti. Karena itu, melawan setan dan nafsu lebih tepat disebut seni , bukan sekadar perang. Dalam hidup sehari-hari, terutama di lingkungan pesantren yang kegiatannya padat, dua musuh ini hampir tidak pernah absen. Setan dan nafsu tidak datang bersamaan, tapi saling mengisi. Yang satu membisiki dari luar, yang satu menguatkan dari dalam. Al-Qur’an sejak awal sudah memberi peringatan: یَـٰبَنِیۤ ءَادَمَ لَا یَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ كَمَاۤ أَخۡرَجَ أَبَوَیۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ یَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِیُرِیَهُمَا سَوۡءَ ٰ⁠ تِهِمَاۤۚ إِنَّهُۥ یَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِیلُهُۥ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّیَـٰطِینَ أَوۡلِیَاۤءَ لِلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ “Wahai anak Adam, jangan sampai kalian diperdaya oleh setan..." (QS. Al-A‘raf: 27) Dalam Tafs...

Khidmah di Pesantren? Apa itu?: Bukan Sebuah Sayatan Pisau

 Kalau diingat-ingat, nasihat dari para guru itu kadang kayak teka-teki. Waktu disampaikan, kita cuma manggut-manggut. Tapi setelah bertahun-tahun, baru terasa: “Oalah, iki maksude ngoten to...” Pas MTs dulu, Mas Ahmad Hanafi alias Uwa pernah bilang: “Niatono ngajimu ng Mbulu’! Ngaji marang ustadz!” Waktu itu aku cuma iya-iya aja, padahal belum paham maksudnya. Yang penting ngaji, titik. Pokoknya asal duduk depan kitab, walaupun kadang mata juga ikut ngaji ngaji tidur. Pas Aliyah, gantian Al-Ustadz yang dawuh: “Nek koe sering ketemu ustadz... pinter!” Aku pikir dulu maksudnya, “Wah, sering ketemu ustadz berarti makin alim.” Padahal sekarang baru sadar: yang dimaksud bukan sekadar ketemu fisik, tapi ketemu ruhiyah, ngerti arah dan tujuan beliau, bukan sekadar numpang foto kalau ustadz lewat. Nah, pas sudah pasca-Aliyah, Mas Fathi atau Mas Pakel nambah satu wejangan: “Khidmah iku penggawe ati!” Waktu itu aku masih mikir, “Penggawe ati? Maksudnya pekerjaan bikin baper, ta?” Ternyata b...

Mbah Salim Singoyudan: Alumni Pondok mBulus Th 1972

  Awalnya saya tidak berniat untuk wawancara. Hari Ahad, 14 September 2025, saya hanya ingin menumpang salat di sebuah mushola kecil di Desa Singoyudan. Mushola itu dipimpin oleh seorang imam yang namanya sudah beberapa kali saya dengar: Mbah Salim, seorang alumni Pondok Pesantren Al-Iman tahun 1972 dan termasuk santri dari Ustadz Agil. Selama 6 tahun beliau mondok. Begitu mau wudhu, saya bertemu dan salaman dengan beliau, lalu menunaikan salat di mushola. Usai salam, pandangan saya menangkap sosok Mbah Salim berjalan sambil membawa pakan sapi menuju kandang di samping rumahnya. Tanpa berpikir panjang, saya spontan ikut berjalan di belakangnya. Setelah memberi salam lagi, saya memberanikan diri membuka obrolan. Dari situlah perbincangan sederhana di sela aktivitas memberi makan sapi itu menjelma menjadi kisah panjang penuh pelajaran. Mbah Salim mulai bercerita tentang masa mudanya di Al-Iman. Jika hendak berangkat dari rumah ke pondok, beliau pasti berjalan kaki, yakni dari Singoyu...

Pemberangkatan PPL MKM: Wejangan dari KH. Hasan Agil

  Kamis, 14 Agustus 2025 menjadi salah satu hari yang tidak akan saya lupakan. Hari itu, saya bersama teman-teman diberangkatkan untuk mengikuti PPL MKM (Praktik Pengabdian Lapangan – Mahasantri Khidmah Masyarakat). Sebelum benar-benar terjun ke masyarakat, kami mendapat bekal berharga dari pengasuh pondok, KH. Hasan Agil. Wejangan beliau sederhana, disampaikan dengan gaya khas kiai kampung yang hangat: ada humor, ada teguran, ada juga hikmah yang dalam. Namun dari kesederhanaan itulah tersimpan makna yang besar. Menghargai Waktu yang Singkat Kiai berpesan agar kami menggunakan dan memanfaatkan waktu yang singkat dengan baik. Hidup ini terlalu sebentar untuk disia-siakan, apalagi masa pengabdian di masyarakat dari Institusi hanya 40 hari lamanya. Waktu yang singkat bisa terasa panjang kalau dijalani dengan sungguh-sungguh, dan sebaliknya, bisa hilang sia-sia kalau hanya diisi dengan main-main. Antara “Wong Pinter” dan “Wong Goblog” Ada satu kalimat yang membuat kami tersenyum sekal...

Kenapa Waktu Ngaji Ndalem Diubah? Sebuah Asumsi dari Sudut Santri

 Bercerita kapada kami dan bercerita kepadaku, begitulah kami sering memulai catatan sederhana tentang hal-hal kecil tapi membekas dari para guru. Di pesantren, tidak semua pelajaran dituangkan dalam diktat (kumpulan catatan pelajaran dari guru) atau kitab; sebagian justru tertanam dalam obrolan, dalam gestur, dalam pengaturan waktu. Saya masih ingat betul satu siang di kantor Takhassus, Senin 28 Shafar 1446 H. Saat itu saya bersama Mas Puji, Mas Sa'ad, Mas Johari, dan Kang Ridho. Di tengah obrolan ringan sambil menunggu waktu ngaji, wan baha menyampaikan komentar, “Saiki ngaji gasik.. jam 2 po tengah 3 kae wes mulai.” Sebagian dari kami menimpali, "setengah tigo". Lalu beliau menambahkan “Yoo, ben abah mbengi iso ngaso.. wes tuo ee.. melas abah.” Pernyataan itu sederhana, bahkan terdengar seperti candaan santai santri pada umumnya. Tapi dari sana muncul sebuah dugaan yang menggelitik hati saya: mungkinkah waktu ngaji ndalem diubah bukan sekadar soal teknis, tapi soal cin...

Makna "Shadaqat" dalam QS. At-Taubah:58: Ghanimah atau Zakat?

 QS. At-Taubah: 58 menjadi salah satu ayat yang sering dirujuk ketika membahas tentang sikap sebagian orang terhadap pembagian harta oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayat ini menggambarkan adanya orang-orang yang mencela Nabi dalam konteks pembagian shadaqat. Namun, dalam khazanah hadis, terdapat kisah populer tentang Dzul Khuwaishirah at-Tamimi yang mencela keadilan Nabi saat membagikan harta, yang mencerminkan sikap serupa dengan yang digambarkan dalam ayat ini. Muncul pertanyaan: apakah shadaqat dalam ayat ini merujuk pada zakat atau ghanimah? Dan apakah kisah Dzul Khuwaishirah merupakan sebab turunnya ayat ini? Bunyi Ayat وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ “Di antara mereka ada orang yang mencelamu dalam (pembagian) sedekah. Jika mereka diberi sebagiannya, mereka senang; dan jika tidak diberi, tiba-tiba mereka marah.” (QS. At-Taubah: 58) Makna "Shadaqat" dalam Ayat In...

Nabi Ismail dalam Sorotan Tafsir Jalalain: Jejak Ketaatan, Janji, dan Warisan Tauhid

  Nabi Ismail, beliau adalah sosok yang sabar dalam dua sisi ketaatan: sabar dalam menjalankan perintah Allah, dan sabar dalam menjauhi larangan-Nya. Kesabaran itu bukan sekadar diam atau pasrah, tetapi aktif menegakkan kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. Allah memberinya kedudukan sebagai nabi bagi seluruh alam. Dia yang memilih, dan Dia pula yang menunjukkan jalan lurus kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Bahkan, seandainya para nabi itu berbuat syirik (walau mustahil terjadi), maka amal mereka pun akan sia-sia, sebagaimana ditegaskan Allah: ولو أشركوا لحبط ما كانوا يعملون "Seandainya mereka mempersekutukan Allah, pasti gugurlah apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 88) Kelahiran Ismail: Karunia di Ujung Usia Ismail dilahirkan saat Nabi Ibrahim berusia 99 tahun, dan adiknya, Ishaq, lahir ketika sang ayah berusia 112 tahun. Artinya, ada selisih 13 tahun antara kedua putra Ibrahim. Atas anugerah di usia senja itu, Ibrahim bersyukur: الحمد لله الذي وهب لي على الك...

Perantau Muslim: Menjaga Iman, Menebar Kasih, Menjadi Hamba di Tanah Orang

  Dulu ada malaikat yang menjelma menjadi manusia, lalu mendatangi Nabi Ibrahim dan memintanya beberapa ekor kambing. Nabi Ibrahim mengiyakan permintaan itu, namun dengan satu syarat: si malaikat harus melantunkan kalimat tasbih terlebih dahulu. Tasbih pun dilantunkan dengan suara yang sangat merdu dan indah. Karena terkesan, Nabi Ibrahim mengizinkan lagi, dan terus memberi tambahan kambing setiap kali malaikat meminta sambil bertasbih. Sampai akhirnya, Nabi Ibrahim berkata, “Demi Allah, ini baru kambing. Kalau anak saya pun demi Allah, saya akan korbankan!” Kalimat itu ternyata menjadi ujian nyata dari Allah. Nabi Ibrahim benar-benar diminta untuk menyembelih putranya sendiri. Dan ketika naluri sebagai ayah muncul dan Nabi Ibrahim berat menjalankannya, Allah mengingatkan: Bukankah kamu pernah berkata demi Allah akan mengorbankan anakmu? Akhirnya, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu dengan penuh kepasrahan. Tapi karena sejatinya itu adalah ujian, Allah menggantinya dengan seekor...

Membaca Jalan, Membaca Kehidupan: Catatan Santri dari Terminal ke Terminal

  Dalam dunia santri, perjalanan bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan juga proses belajar. Kami bukan hanya menuntut ilmu dari kitab dan guru, tapi juga dari jalanan yang penuh peristiwa, wajah asing, dan keputusan-keputusan cepat. Pengalaman ini terjadi saat aku dan teman-teman menjadi utusan musyawarah dari pondok asal menuju pondok lain, lalu pulang kembali. Jalur yang kami lewati bukan jalur wisata, tapi jalur rakyat. Dari Trans Jateng ke Trans Jogja, lanjut ke bus antar kota, hingga bertemu Terboyo—terminal yang tidak tidur, tapi penuh dinamika. Siang Hari: Panas, Bus Tua, dan Pertunjukan Amplop Kami berdua turun dari bus kecil, langsung disambut calo yang antusias. Seperti sudah tahu kami bukan orang lokal. Diarahkan ke bus tua yang tampak ngos-ngosan, kami diminta naik dan menunggu di dalam. Panas bukan main, kipas angin cuma pajangan, dan suasananya muram. Tapi bukan itu yang membuatku kaget—di bagian belakang, ada sekelompok emak-emak dan anak-anak. Mereka tampak se...

Baik-buruk Sangkaan

 Wahai jiwa yang bersangka-sangka..  Banyak sekali tuduhan-sangkaan yang menghampiri dirimu. Awas!,  Barangkali sangkaanmu itu hanyalah singa yang mengapung di sungai Yakinilah, sangkaan hanyalah kesungkanan yang terlalu malu untuk bertanya, tapi terlalu berani menuduh Tidak usah menyangka-nyangka yang tidak baik wahai pemuda, Apalagi menersangkakan yang terlalu baik, itu bukan bijak, tapi licik

Ketika Pesantren Tidak Ikut Tren: Adaptasi Unik di Masa Pandemi

  Di masa pandemi COVID-19, dunia seolah diseragamkan oleh satu arus besar: protokol kesehatan. Sekolah ditutup, belajar pindah ke daring, masker jadi kewajiban, dan hand sanitizer tak pernah jauh dari saku. Dunia bergerak dengan ketakutan dan kehati-hatian. Semua mengikuti arus. Tapi tidak di pesantren kami. Belajar Tatap Muka Saat Dunia Belajar Online Ketika pelajar di luar sibuk mengejar sinyal demi Zoom, kami tetap duduk bersila di depan guru. Belajar tatap muka. Menatap kitab, mendengar langsung penjelasan ustaz, dan merasakan suasana majelis ilmu dengan penuh khidmat. Tak ada teknologi canggih, tapi ada keberkahan yang terasa. Kami tidak ceroboh. Pesantren membentuk zona steril—lingkungan tertutup dengan batas gerak yang jelas. Santri boleh keluar asrama, tapi tidak melewati zona aman yang ditentukan. Di dalam zona itu, kami hidup dan belajar seperti biasa. Mandi dan Wudhu Gantikan Hand Sanitizer Orang-orang berburu hand sanitizer. Kami tidak. Kami tetap mandi seperti biasa. ...

Doa Bobby di Serambi Istana

  Di serambi sunyi Istana Merdeka, Bobby termenung menatap senja. Tak ada suara, hanya angin patah, Dan bau busuk dari balik sejarah. Ia bukan kucing pasar biasa, Tapi penjaga mimpi yang nyaris sirna. Tikus-tikus datang bersetelan wangi, Dengan tawa palsu dan dompet sakti. Mereka tak mencuri roti atau nasi, Tapi mencabut akar kepercayaan negeri. Dari lemari rakyat, dari tangan petani, Dari buku-buku anak yang belum dibeli. "Wahai Tuan Prabowo, penjaga gerbang, Izinkan aku melangkah tenang. Bukan untuk memamah tulang, Tapi demi bumi yang kehilangan terang." Langkahnya pelan, tapi cakar tajam, Tak goyah oleh lobi, tak tunduk pada malam. Ia melompat bukan karena dendam, Tapi karena negeri ini terlalu diam. Bobby bukan sekadar pemburu, Ia luka yang enggan membatu. Ia doa dari rakyat yang malu, Melihat keadilan hanya bayang semu. Maka jika esok fajar bersih menyala, Dan tikus-tikus tiada bersisa, Ingatlah: bukan sekadar kucing biasa, Tapi harapan yang di...

Kakek Munafiq

  Di malam gulita, kakek nyalakan api, Senyum melambai, cahaya pun menghampiri. Terang menari, mengitari langkah sepi, Menunjuk jalan lurus—tanpa ragu, tanpa lari. Namun angin datang, kencang dan dingin, Membunuh nyala, membekukan pandang nan bening. Gelap menelan terang yang sempat hadir, Tinggallah kakek—tersesat, tak tahu ke mana berpikir. Ia menyesal, namun cahaya tak kembali, Terperangkap dalam kelam, tiada arah pasti. Hilang petunjuk, hilang kendali, Langkahnya goyah, batinnya sunyi. QS. Al-Baqarah ayat 17-18

Makna 'Ulil Amri' QS. An-Nisa: 58: Telaah Penafsiran Syeikh Muhammad Nawawi Al-Jawi

 Siapa Sih “Ulil Amri”? Ini Penjelasan Imam Nawawi Biar Kamu Gak Salah Paham Kamu pasti pernah denger ayat yang bilang, “Taatlah kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri.” Tapi, siapa sih sebenarnya Ulil Amri itu? Yuk, kita kupas bareng menurut Imam Nawawi! 1. Ulil Amri Menurut Imam Nawawi Ulil Amri bukan cuma pemimpin negara aja, tapi bisa dibagi jadi dua: • Ulama yang punya kapasitas nentuin hukum (ahlul halli wal ‘aqd). • Pemimpin adil yang jalankan tugas sesuai syariat, bukan sembarangan. Kalau pemimpinnya zalim, mayoritas ulama bilang nggak wajib taat, bahkan bisa haram. Karena mereka bisa nyuruh hal yang bertentangan sama ajaran Islam. 2. Cerita Dari Para Salaf • Menurut Said bin Jubair, ayat ini turun pas Nabi ﷺ ngangkat Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi jadi pemimpin pasukan. • Ibnu Abbas bilang ayat ini terkait konflik Khalid bin Walid dan Ammar bin Yasir dalam misi militer. Jadi, Ulil Amri bisa juga berarti pemimpin pasukan atau orang yang pegang tanggung jawab penting. 3. Sikap K...

6 Penyebab Alami Meraih Kemuliaan

Kemuliaan memiliki sebab-sebab, ada yang diperoleh melalui usaha (kasbi) dan ada yang tidak melalui usaha (ghairu kasbi). Adapun sebab-sebab yang tidak melalui usaha ada enam: Pertama: Akal, dan pahala yang dikaitkan dengannya bertingkat-tingkat berdasarkan dampaknya, karena akal itu mendorong kepada pengetahuan (ma'rifah), kedekatan kepada Allah dan tingginya derajat." Kedua: Sifat-sifat mulia yang bersifat naluriah, seperti rasa cemburu, kelapangan dada (kesabaran), kasih sayang, kedermawanan, keberanian, dan rasa malu. Pahala diberikan berdasarkan dampak dari sifat-sifat ini. Dampak dari rasa cemburu adalah mencegah terjadinya perbuatan keji dan segala sebabnya terhadap kehormatan diri dan keluarga. Dampak dari kelapangan dada adalah menunda pembalasan terhadap orang yang berbuat salah hingga kemarahan pihak yang terzalimi mereda, sehingga memudahkan untuk memaafkan kesalahan tersebut. Dampak dari kasih sayang adalah memberikan kebaikan yang sempurna dan kebaikan yang menye...

Safinah, Penderek Nabi Muhammad SAW

Safinah, Sang Pembawa Amanah: Bekas Budak yang Menjadi Sahabat Setia Rasulullah ﷺ Di antara nama-nama mulia para sahabat Nabi Muhammad ﷺ, terdapat seorang yang kisah hidupnya unik dan menginspirasi. Ia dikenal dengan nama Safinah, seorang bekas budak yang kemudian menjadi salah satu pelayan dan sahabat setia Rasulullah ﷺ. Nama lengkap dan asal-usulnya tidak banyak disebut dalam sumber sejarah, namun yang masyhur, ia dikenal dengan nama kuniyah Abu Abdurrahman dan lebih terkenal dengan julukannya: Safinah Mawla Rasulillah – “Safinah, bekas budak Rasulullah”. Safinah awalnya adalah budak milik Ummu Salamah, salah satu istri Nabi Muhammad ﷺ. Ummu Salamah, yang dikenal sebagai wanita mulia dan dermawan, membeli Safinah lalu memerdekakannya. Namun, pembebasan itu disertai satu syarat: ia harus mengabdikan dirinya menjadi pelayanan Nabi Muhammad ﷺ. Safinah menerima syarat itu dengan sepenuh hati, dan sejak saat itulah ia menjadi pelayan pribadi Rasulullah, menyertai beliau dalam berbagai per...