Pemberangkatan PPL MKM: Wejangan dari KH. Hasan Agil

 

Kamis, 14 Agustus 2025 menjadi salah satu hari yang tidak akan saya lupakan. Hari itu, saya bersama teman-teman diberangkatkan untuk mengikuti PPL MKM (Praktik Pengabdian Lapangan – Mahasantri Khidmah Masyarakat). Sebelum benar-benar terjun ke masyarakat, kami mendapat bekal berharga dari pengasuh pondok, KH. Hasan Agil.

Wejangan beliau sederhana, disampaikan dengan gaya khas kiai kampung yang hangat: ada humor, ada teguran, ada juga hikmah yang dalam. Namun dari kesederhanaan itulah tersimpan makna yang besar.



Menghargai Waktu yang Singkat


Kiai berpesan agar kami menggunakan dan memanfaatkan waktu yang singkat dengan baik. Hidup ini terlalu sebentar untuk disia-siakan, apalagi masa pengabdian di masyarakat dari Institusi hanya 40 hari lamanya. Waktu yang singkat bisa terasa panjang kalau dijalani dengan sungguh-sungguh, dan sebaliknya, bisa hilang sia-sia kalau hanya diisi dengan main-main.



Antara “Wong Pinter” dan “Wong Goblog”


Ada satu kalimat yang membuat kami tersenyum sekaligus merenung:

“Kalian itu dianggep wong pinter, padahal paling susah kui nek dikiro wong pinter. Paling enak nek diarani wong goblog.”

Menjadi “wong pinter” memang beban. Ekspektasi orang akan tinggi, segala tindak-tanduk dinilai. Sementara orang yang dianggap “bodoh” malah lebih bebas. Pesan ini mengingatkan kami bahwa jangan sampai gelar “mahasiswa” atau “mahasantri” membuat sombong. Justru harus semakin rendah hati, sebab ilmu sejati akan terlihat dari manfaatnya, bukan sekadar statusnya.



Jangan Hanya Mengkritik, Tapi Juga Memberi Solusi


Kiai juga menegaskan, dalam kehidupan sosial kita tidak boleh hanya bisa mengkritik.

“Berani nyalahke yo kudu wani mbenerke. Nek ora wani aweh solusi, luwih becik meneng wae.”

Pesan ini terasa relevan sekali. Di masyarakat nanti, kami pasti akan menemukan banyak hal yang tidak ideal. Namun kritik tanpa solusi hanya menambah masalah. Keberanian bukan sekadar menunjukkan salah, tapi juga hadir memberi jalan keluar.



Dua Jenis Ilmu: Ta’lim dan Hal


Satu hal penting yang beliau garis bawahi adalah tentang dua macam ilmu:

1. Ilmu Ta’lim – ilmu teori, yang biasa kita dapatkan dari kitab, kelas, dan pengajaran formal.

2. Ilmu Hal – ilmu yang langsung dipraktikkan, dihidupkan di tengah masyarakat.

PPL ini bukan sekadar ajang menguji teori, melainkan juga ruang belajar “ilmu hal”. Justru di masyarakatlah kita benar-benar belajar bagaimana ilmu itu mengalir dan membumi.



Kisah Jawaban “Saya Islam”


Kiai menutup dengan sebuah pengalaman menarik. Dahulu, ada tiga kelompok yang ditugaskan ke suatu daerah. Setiap kali datang, mereka ditanya oleh seorang kiai setempat:

“Njenengan NU opo Muhammadiyah?”

Kelompok pertama menjawab NU, ditolak karena daerah itu mayoritas Muhammadiyah. Kelompok kedua menjawab Muhammadiyah, juga ditolak karena ternyata NU semua. Hingga kelompok ketiga—kelompok beliau—yang menjawab sederhana:

“Lah kulo nggeh Islam.”

Jawaban itu menembus sekat. Kiai setempat langsung menyambut, “Wah sami kaleh kulo. Monggo madang rumiyin.”

Dari kisah itu, kami belajar: identitas terbesar kita bukan hanya NU atau Muhammadiyah, tapi Islam itu sendiri. Saat kembali ke masyarakat, jangan sampai kita terjebak pada sekat organisasi, melainkan jadilah muslim yang bisa diterima semua kalangan.



Penutup: Pergi dengan Syukur, Bukan Susah


Akhirnya, KH. Hasan Agil menutup dengan doa dan pesan sederhana:

“Selamat jalan, selamat PPL. Hadapi dengan rasa senang, rasa syukur. Ojo susah!”

Sebuah kalimat singkat, tapi menenangkan hati.

Bagi saya, wejangan itu bukan sekadar sambutan pemberangkatan, tapi bekal hidup. PPL hanyalah miniatur dari perjalanan yang lebih panjang. Yang terpenting bukanlah berapa lama kita pergi, melainkan bagaimana kita mengisi waktu yang sebentar ini dengan manfaat dan kebaikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Waktu Ngaji Ndalem Diubah? Sebuah Asumsi dari Sudut Santri

Mbah Salim Singoyudan: Alumni Pondok mBulus Th 1972