Mbah Salim Singoyudan: Alumni Pondok mBulus Th 1972

 


Awalnya saya tidak berniat untuk wawancara. Hari Ahad, 14 September 2025, saya hanya ingin menumpang salat di sebuah mushola kecil di Desa Singoyudan. Mushola itu dipimpin oleh seorang imam yang namanya sudah beberapa kali saya dengar: Mbah Salim, seorang alumni Pondok Pesantren Al-Iman tahun 1972 dan termasuk santri dari Ustadz Agil. Selama 6 tahun beliau mondok.


Begitu mau wudhu, saya bertemu dan salaman dengan beliau, lalu menunaikan salat di mushola. Usai salam, pandangan saya menangkap sosok Mbah Salim berjalan sambil membawa pakan sapi menuju kandang di samping rumahnya. Tanpa berpikir panjang, saya spontan ikut berjalan di belakangnya. Setelah memberi salam lagi, saya memberanikan diri membuka obrolan. Dari situlah perbincangan sederhana di sela aktivitas memberi makan sapi itu menjelma menjadi kisah panjang penuh pelajaran.


Mbah Salim mulai bercerita tentang masa mudanya di Al-Iman. Jika hendak berangkat dari rumah ke pondok, beliau pasti berjalan kaki, yakni dari Singoyudan, Mirit hingga Butuh, Purworejo lalu numpang transpot seadanya sampai masjid kauman purworejo dan berjalan kaki kembali sampai pondok membawa beras bebarapa kilo untuk persediaan masak di pondok. Ia tidak menutup-nutupi kenakalannya. Salah satu kenangan yang paling lekat adalah ketika mengaji bersama Ustadz Agil. Saat ustadz keluar sebentar untuk mengambil air wudhu, ia nekad menghabiskan air minum ustadz yang masih tersisa setengah gelas. Alih-alih marah, Ustadz Agil justru menanggapinya dengan kalimat penuh kebijaksanaan: “Nek wedange isih setengah ojo diombe disek, tapi nek wes setengah kurang kono diombe.” Sejak saat itu, Ustadz Agil justru menunjuknya menjadi abdi ndalem. “Kalau tidak karena dawuh itu, mungkin saya tidak akan selesai mondok, karena kenakalan saya sendiri,” tutur Mbah Salim sambil tersenyum kecil.


Sebagai abdi ndalem, ia banyak belajar disiplin dan ketulusan. Ia pernah menceritakan, suatu pagi beras di rumah ustadz habis. Ia bergegas hendak pergi ke Purworejo untuk menyelip gabah, namun Ustadz Agil menahannya, “Sekolah disek!” Barulah pada jam istirahat ia diberi kesempatan untuk melaksanakan tugas itu. Seusai pulang, Ustadz Agil memanggilnya, membuka kitab, lalu mengambil uang yang terselip di antara lembarannya untuk diberikan kepada Mbah Salim. Momen sederhana yang menyisakan kesan dalam: di balik kerasnya hidup santri, ada kasih sayang guru yang kadang tersembunyi.


Dari penuturannya, saya mendapat gambaran suasana pesantren di masa itu. Setelah ashar, santri mengaji Fathul Mu’in. Setelah maghrib, mempelajari nahwu. Bahkan sejak dulu sudah ada pelajaran bahasa Inggris dengan adanya dua guru, namun penulis lupa. Ustadz Agil pun selalu mengajar dengan bahasa Arab penuh, menciptakan atmosfer ilmiah yang begitu kental di kalangan santri.


Kini, puluhan tahun berselang, Mbah Salim menjalani hari-harinya dengan kesederhanaan. Lima ekor sapi menjadi rezeki yang ia rawat sendiri. Di teras rumahnya, sebuah meja besar dipenuhi kitab-kitab, menandakan bahwa kebiasaan muthalaah tak pernah pudar. Bahkan di samping pengimaman mushola tempat ia memimpin salat, kitab-kitab itu selalu hadir, seakan menjadi saksi bahwa perjalanan hidupnya tidak pernah terpisah dari ilmu.


Saya pulang sore itu dengan hati hangat. Dari Mbah Salim, saya belajar bahwa masa muda yang nakal tidak selalu menjadi penghalang. Dengan bimbingan guru yang bijak, kenakalan bisa berubah menjadi jalan menuju kedewasaan. Dari seorang santri yang nyaris tersesat, kini Mbah Salim menjadi imam yang menuntun jamaahnya dalam salat. Hidup sederhana, namun kaya dengan warisan ilmu, pengalaman, dan doa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Waktu Ngaji Ndalem Diubah? Sebuah Asumsi dari Sudut Santri

Pemberangkatan PPL MKM: Wejangan dari KH. Hasan Agil