Kenapa Waktu Ngaji Ndalem Diubah? Sebuah Asumsi dari Sudut Santri
Bercerita kapada kami dan bercerita kepadaku, begitulah kami sering memulai catatan sederhana tentang hal-hal kecil tapi membekas dari para guru. Di pesantren, tidak semua pelajaran dituangkan dalam diktat (kumpulan catatan pelajaran dari guru) atau kitab; sebagian justru tertanam dalam obrolan, dalam gestur, dalam pengaturan waktu. Saya masih ingat betul satu siang di kantor Takhassus, Senin 28 Shafar 1446 H. Saat itu saya bersama Mas Puji, Mas Sa'ad, Mas Johari, dan Kang Ridho. Di tengah obrolan ringan sambil menunggu waktu ngaji, wan baha menyampaikan komentar, “Saiki ngaji gasik.. jam 2 po tengah 3 kae wes mulai.” Sebagian dari kami menimpali, "setengah tigo". Lalu beliau menambahkan “Yoo, ben abah mbengi iso ngaso.. wes tuo ee.. melas abah.” Pernyataan itu sederhana, bahkan terdengar seperti candaan santai santri pada umumnya. Tapi dari sana muncul sebuah dugaan yang menggelitik hati saya: mungkinkah waktu ngaji ndalem diubah bukan sekadar soal teknis, tapi soal cin...