Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Kenapa Waktu Ngaji Ndalem Diubah? Sebuah Asumsi dari Sudut Santri

 Bercerita kapada kami dan bercerita kepadaku, begitulah kami sering memulai catatan sederhana tentang hal-hal kecil tapi membekas dari para guru. Di pesantren, tidak semua pelajaran dituangkan dalam diktat (kumpulan catatan pelajaran dari guru) atau kitab; sebagian justru tertanam dalam obrolan, dalam gestur, dalam pengaturan waktu. Saya masih ingat betul satu siang di kantor Takhassus, Senin 28 Shafar 1446 H. Saat itu saya bersama Mas Puji, Mas Sa'ad, Mas Johari, dan Kang Ridho. Di tengah obrolan ringan sambil menunggu waktu ngaji, wan baha menyampaikan komentar, “Saiki ngaji gasik.. jam 2 po tengah 3 kae wes mulai.” Sebagian dari kami menimpali, "setengah tigo". Lalu beliau menambahkan “Yoo, ben abah mbengi iso ngaso.. wes tuo ee.. melas abah.” Pernyataan itu sederhana, bahkan terdengar seperti candaan santai santri pada umumnya. Tapi dari sana muncul sebuah dugaan yang menggelitik hati saya: mungkinkah waktu ngaji ndalem diubah bukan sekadar soal teknis, tapi soal cin...

Makna "Shadaqat" dalam QS. At-Taubah:58: Ghanimah atau Zakat?

 QS. At-Taubah: 58 menjadi salah satu ayat yang sering dirujuk ketika membahas tentang sikap sebagian orang terhadap pembagian harta oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayat ini menggambarkan adanya orang-orang yang mencela Nabi dalam konteks pembagian shadaqat. Namun, dalam khazanah hadis, terdapat kisah populer tentang Dzul Khuwaishirah at-Tamimi yang mencela keadilan Nabi saat membagikan harta, yang mencerminkan sikap serupa dengan yang digambarkan dalam ayat ini. Muncul pertanyaan: apakah shadaqat dalam ayat ini merujuk pada zakat atau ghanimah? Dan apakah kisah Dzul Khuwaishirah merupakan sebab turunnya ayat ini? Bunyi Ayat وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ “Di antara mereka ada orang yang mencelamu dalam (pembagian) sedekah. Jika mereka diberi sebagiannya, mereka senang; dan jika tidak diberi, tiba-tiba mereka marah.” (QS. At-Taubah: 58) Makna "Shadaqat" dalam Ayat In...

Nabi Ismail dalam Sorotan Tafsir Jalalain: Jejak Ketaatan, Janji, dan Warisan Tauhid

  Nabi Ismail, beliau adalah sosok yang sabar dalam dua sisi ketaatan: sabar dalam menjalankan perintah Allah, dan sabar dalam menjauhi larangan-Nya. Kesabaran itu bukan sekadar diam atau pasrah, tetapi aktif menegakkan kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. Allah memberinya kedudukan sebagai nabi bagi seluruh alam. Dia yang memilih, dan Dia pula yang menunjukkan jalan lurus kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Bahkan, seandainya para nabi itu berbuat syirik (walau mustahil terjadi), maka amal mereka pun akan sia-sia, sebagaimana ditegaskan Allah: ولو أشركوا لحبط ما كانوا يعملون "Seandainya mereka mempersekutukan Allah, pasti gugurlah apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 88) Kelahiran Ismail: Karunia di Ujung Usia Ismail dilahirkan saat Nabi Ibrahim berusia 99 tahun, dan adiknya, Ishaq, lahir ketika sang ayah berusia 112 tahun. Artinya, ada selisih 13 tahun antara kedua putra Ibrahim. Atas anugerah di usia senja itu, Ibrahim bersyukur: الحمد لله الذي وهب لي على الك...