Nabi Ismail dalam Sorotan Tafsir Jalalain: Jejak Ketaatan, Janji, dan Warisan Tauhid
Nabi Ismail, beliau adalah sosok yang sabar dalam dua sisi ketaatan: sabar dalam menjalankan perintah Allah, dan sabar dalam menjauhi larangan-Nya. Kesabaran itu bukan sekadar diam atau pasrah, tetapi aktif menegakkan kebaikan dan menjauhi kemaksiatan.
Allah memberinya kedudukan sebagai nabi bagi seluruh alam. Dia yang memilih, dan Dia pula yang menunjukkan jalan lurus kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Bahkan, seandainya para nabi itu berbuat syirik (walau mustahil terjadi), maka amal mereka pun akan sia-sia, sebagaimana ditegaskan Allah:
ولو أشركوا لحبط ما كانوا يعملون
"Seandainya mereka mempersekutukan Allah, pasti gugurlah apa yang telah mereka kerjakan."
(QS. Al-An'am: 88)
Kelahiran Ismail: Karunia di Ujung Usia
Ismail dilahirkan saat Nabi Ibrahim berusia 99 tahun, dan adiknya, Ishaq, lahir ketika sang ayah berusia 112 tahun. Artinya, ada selisih 13 tahun antara kedua putra Ibrahim. Atas anugerah di usia senja itu, Ibrahim bersyukur:
الحمد لله الذي وهب لي على الكبر إسماعيل وإسحاق
Sembelihan Agung: Sebuah Ujian dan Gantinya
Ismail tidak jadi disembelih karena Allah menggantinya dengan seekor gibas dari surga, dibawa langsung oleh Jibril. Menurut tafsir Jalalain, gibas ini adalah hewan kurban milik Habil, anak Nabi Adam:
وفديناه بذبح عظيم
(QS. Ash-Shaffat: 107)Mendirikan Ka'bah: Warisan Ibadah Sepanjang Zaman
Ismail dan ayahnya membangun kembali pondasi Ka'bah. Saat itu, mereka memanjatkan doa:
ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم
"Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sungguh, Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 127)
Ka’bah itu kemudian menjadi kiblat umat Islam seluruh dunia hingga kini.
Disiplin dalam Janji
Nabi Ismail dikenal sebagai sosok yang sangat menepati janji. Jika berjanji, ia akan menunggu sampai janji itu terpenuhi, bahkan jika harus menanti berhari-hari atau setahun. Allah memujinya dalam Al-Qur’an:
واذكر في الكتاب إسماعيل إنه كان صادق الوعد وكان رسولا نبيا
(QS. Maryam: 54)Bahkan, beliau adalah nabi penerima wahyu dan diutus kepada kaum Jurhum.
Makkah yang Tandus Jadi Daya Tarik Dunia
Ismail kecil dan ibunya, Hajar, ditempatkan di Makkah oleh Nabi Ibrahim. Lembah itu tandus, tapi tujuannya jelas: agar mereka mendirikan shalat di sisi Baitullah, dan hati manusia akan datang ke sana:
ربنا إني أسكنت من ذريتي بواد غير ذي زرع عند بيتك المحرم ربنا ليقيموا الصلاة فاجعل أفئدة من الناس تهوي إليهم وارزقهم من الثمرات لعلهم يشكرون
(QS. Ibrahim: 37)Menurut Ibnu Abbas, andai Ibrahim memohon seluruh hati manusia, niscaya seluruh umat akan tertarik ke sana.
Menolak Klaim Yahudi: Ibrahim dan Keluarganya Hanif
Saat kaum Yahudi mengklaim Ibrahim dan anak-anaknya sebagai bagian dari mereka, Allah membantah:
ما كان إبراهيم يهوديا ولا نصرانيا ولكن كان حنيفا مسلما
(QS. Ali 'Imran: 67)Nabi Muhammad pun menegaskan bahwa Ibrahim dan anak cucunya adalah hanif dan muslim sejati, bukan Yahudi maupun Nasrani.
Wasiat Ya’qub: Tauhid yang Konsisten
أم كنتم شهداء إذ حضر يعقوب الموت إذ قال لبنيه ما تعبدون من بعدي قالوا نعبد إلهك وإله آبائك إبراهيم وإسماعيل وإسحاق إلهًا واحدًا ونحن له مسلمون
(QS. Al-Baqarah: 133)Para Nabi Sujud Menangis: Warisan Hidayah
أولئك الذين أنعم الله عليهم من النبيين من ذرية آدم وممن حملنا مع نوح ومن ذرية إبراهيم وإسرائيل وممن هدينا واجتبينا إذا تُتلى عليهم آيات الرحمن خروا سجدا وبكيا
(QS. Maryam: 58)---
Referensi utama: Tafsir al-Jalalain: QS Al-An'am:88, Ash-Shaffat:107, Al-Baqarah:127, Maryam:54, Ibrahim:37, Ali Imran:67, Al-Baqarah:133, Maryam:58.
Catatan: Seluruh uraian ini disarikan dari makna dan isyarat dalam Tafsir Jalalain.
Komentar
Posting Komentar