Ketika Pesantren Tidak Ikut Tren: Adaptasi Unik di Masa Pandemi
Di masa pandemi COVID-19, dunia seolah diseragamkan oleh satu arus besar: protokol kesehatan. Sekolah ditutup, belajar pindah ke daring, masker jadi kewajiban, dan hand sanitizer tak pernah jauh dari saku. Dunia bergerak dengan ketakutan dan kehati-hatian. Semua mengikuti arus.
Tapi tidak di pesantren kami.
Belajar Tatap Muka Saat Dunia Belajar Online
Ketika pelajar di luar sibuk mengejar sinyal demi Zoom, kami tetap duduk bersila di depan guru. Belajar tatap muka. Menatap kitab, mendengar langsung penjelasan ustaz, dan merasakan suasana majelis ilmu dengan penuh khidmat. Tak ada teknologi canggih, tapi ada keberkahan yang terasa.
Kami tidak ceroboh. Pesantren membentuk zona steril—lingkungan tertutup dengan batas gerak yang jelas. Santri boleh keluar asrama, tapi tidak melewati zona aman yang ditentukan. Di dalam zona itu, kami hidup dan belajar seperti biasa.
Mandi dan Wudhu Gantikan Hand Sanitizer
Orang-orang berburu hand sanitizer. Kami tidak. Kami tetap mandi seperti biasa. Kami berwudhu lima kali sehari. Kami bersuci bukan karena takut virus, tapi karena perintah agama. Dan ternyata, tanpa sadar, kebiasaan bersuci itu menjadi perlindungan alami kami.
Bagi kami, menjaga kebersihan adalah bagian dari ibadah. Dan itu dilakukan dengan kesadaran, bukan keterpaksaan.
Tidak Jaga Jarak, Tapi Tetap Terjaga
Di masjid, kami tetap berdempetan dalam saf. Di kelas, kami duduk berdekatan. Interaksi sosial tetap hidup, tidak mati oleh jarak. Kami hidup normal, tapi dalam sistem yang tertutup dan terjaga.
Namun, saat momen besar datang—seperti haul dan khataman akbar yang menghadirkan wali santri dan jamaah thariqah dari luar—protokol kesehatan diterapkan dengan ketat. Semua memakai masker. Juga saat momen pemulangan santri, masker tetap dikenakan sebagai bentuk tanggung jawab.
Pesantren bahkan membuat gerbang tambahan yang dilengkapi prosedur protokol kesehatan, sesuai aturan negara. Ini menunjukkan bahwa kami tidak menolak aturan, hanya menyesuaikannya secara bijak dan realistis.
Menyaring Tren, Bukan Menolaknya
Pesantren kami tidak anti tren. Kami hanya menyaring mana yang esensial dan mana yang bisa diolah sesuai nilai kami. Bagi kami, ikhtiar dan tawakal tidak bertentangan, tapi berjalan beriringan.
Kami tetap waspada, tapi tidak paranoid. Kami tetap menjaga, tapi tidak mengorbankan ruh kehidupan pesantren.
Pelajaran dari Pesantren
Dari pengalaman ini, saya belajar satu hal penting:
“Tren boleh datang dan pergi, tapi nilai yang diyakini dan dijaga dengan sadar akan bertahan, bahkan dalam badai sekalipun.”
Di tengah dunia yang panik, pesantren menunjukkan bahwa kesederhanaan bisa menjadi ketahanan. Bahwa kebersihan spiritual bisa menjadi benteng fisik. Dan bahwa hidup dengan ilmu dan adab tetap bisa berjalan meski tren berkata sebaliknya.
---
Catatan: Artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi selama mondok di masa pandemi. Ditulis bukan untuk mengkritik, tapi sebagai refleksi bahwa setiap komunitas punya cara sendiri untuk bertahan, selama tetap memegang prinsip kehati-hatian dan tanggung jawab.
Komentar
Posting Komentar