Perantau Muslim: Menjaga Iman, Menebar Kasih, Menjadi Hamba di Tanah Orang

 

Dulu ada malaikat yang menjelma menjadi manusia, lalu mendatangi Nabi Ibrahim dan memintanya beberapa ekor kambing. Nabi Ibrahim mengiyakan permintaan itu, namun dengan satu syarat: si malaikat harus melantunkan kalimat tasbih terlebih dahulu. Tasbih pun dilantunkan dengan suara yang sangat merdu dan indah. Karena terkesan, Nabi Ibrahim mengizinkan lagi, dan terus memberi tambahan kambing setiap kali malaikat meminta sambil bertasbih. Sampai akhirnya, Nabi Ibrahim berkata, “Demi Allah, ini baru kambing. Kalau anak saya pun demi Allah, saya akan korbankan!”


Kalimat itu ternyata menjadi ujian nyata dari Allah. Nabi Ibrahim benar-benar diminta untuk menyembelih putranya sendiri. Dan ketika naluri sebagai ayah muncul dan Nabi Ibrahim berat menjalankannya, Allah mengingatkan: Bukankah kamu pernah berkata demi Allah akan mengorbankan anakmu?


Akhirnya, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu dengan penuh kepasrahan. Tapi karena sejatinya itu adalah ujian, Allah menggantinya dengan seekor kambing. Maka sejak itulah, ritual kurban menjadi bagian penting dalam tradisi Islam.


Ketika Nabi Ibrahim Belajar Menjadi Hamba yang Lembut


Dalam riwayat lain, saat Nabi Ibrahim diangkat ke alam malakut dan berdialog dengan Allah, ia mengusulkan agar para pendosa dibinasakan: pezina, koruptor, dan orang-orang yang tidak mengakui Tuhan. Nabi Ibrahim menganggap mereka tidak sopan terhadap Allah, padahal mereka hidup di bumi-Nya dan makan dari rezeki-Nya.


Namun ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, beliau ragu. Allah pun menegur: Ketika kamu usul mereka dibinasakan, kamu tidak mikir bahwa mereka adalah hamba-Ku. Tapi saat Aku minta kamu menyembelih anakmu, kamu malah berpikir dan menolak. Bukankah anakmu juga makhluk ciptaan-Ku?


Sejak itulah, hati Nabi Ibrahim berubah menjadi sangat lembut. Maka tak heran jika kemudian Rasulullah menyamakan kelembutan hati Abu Bakar dengan Nabi Ibrahim.


Dari Nabi Ibrahim, Sunnah Sosial Itu Lahir


Nabi Ibrahim berkata:


"Barangsiapa mengikuti aku, maka dia bagian dariku. Dan siapa yang mendurhakai aku, maka Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

(QS. Ibrahim: 36)


Ini menjadi fondasi bahwa agama ini adalah rahmat bagi semesta. Bahwa tugas kita terhadap kemungkaran dan kesalahan bukan untuk menghabisi, tetapi memperbaiki.


Dari situlah sunnah mutaba’ah lahir: mengikuti metode dakwah dan pendekatan sosial Nabi Ibrahim yang lembut dan penuh kasih. Maka ketika Nabi Muhammad melakukan mi’raj, dari semua nabi Ulul Azmi, hanya Nabi Nuh yang tidak ditemui. Banyak ulama menafsirkan ini sebagai isyarat bahwa Nabi Nuh pernah mendoakan kehancuran kaumnya. Padahal Islam mengajarkan dakwah yang sabar, lembut, dan penuh harapan, seperti Nabi Ibrahim.


Perantau Muslim dan Universalitas Ibadah


Islam berbeda dengan agama-agama sebelumnya yang ibadahnya hanya sah di tempat ibadah khusus. Nabi bersabda:


"Seluruh bumi ini telah dijadikan sebagai masjid bagiku."


Maka di manapun seorang Muslim berada—di Kanada, Korea, Eropa, atau tempat lainnya—dia tetap bisa menjadi hamba Allah yang penuh makna. Di manapun waktu salat datang, ia bisa menunaikannya.


Kata Nabi:


"Negeri ini milik Allah. Hamba-hamba-Nya ya hamba Allah. Maka jika kamu menemukan kebaikan di satu tempat, tinggallah di situ."


Dari Sawah ke Masjid, Dari Tamu Menjadi Imam


Gus Baha pernah bercerita: ada teman yang di kampung bukan siapa-siapa, sering di sawah atau ladang. Tapi ketika merantau ke Korea, karena tidak ada kyai atau ustadz, ia justru jadi rujukan—jadi mufti dadakan. Ini menunjukkan: bukan soal status atau popularitas, tapi soal kesiapan memikul tanggung jawab.


Kadang orang enggan jadi MC, enggan jadi pengurus masjid, enggan jadi kyai. Tapi ketika ada yang salah, dia paling vokal mengkritik. Kata ayah Gus Baha:


"Tawadhu itu baik, tapi jangan sampai itu jadi alasan untuk lari dari tanggung jawab."


Resah Karena Allah Tak Dikenal


Nabi Adam ketika diturunkan ke bumi, keresahan pertamanya bukan karena kelaparan, tapi karena mendapati bangsa jin yang tak mengenal Allah. Baginya, itu sangat aneh: bagaimana bisa hidup di bumi Allah, makan dari rezeki Allah, tapi tidak mengenal-Nya?


Resah seperti itu diwariskan kepada para nabi dan ulama. Maka keresahan-keresahan kita di perantauan—misalnya takut tidak bisa salat, tidak ada masjid, atau orang-orang tidak kenal Allah—itu adalah warisan keresahan yang baik.


Kita Semua Hamba Allah, Dimanapun Berada


Masuk surga itu mudah, yang susah adalah mendapatkan status sebagai hamba Allah. Maka Allah berfirman:


"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."

(QS. Al-Fajr: 27–30)


Perhatikan urutannya: jadi hamba dulu, baru masuk surga.


Belajar dari Reputasi Penciptaan


Ketika kita bingung soal akhirat—bagaimana mungkin tulang belulang yang jadi tanah bisa hidup lagi?—Allah menjawab:


"Katakanlah, Dzat yang menciptakan pertama kali akan menghidupkan kembali."

(QS. Yasin: 79)


Kita percaya telur bisa jadi ayam, biji bisa jadi pohon, bukan karena kita paham prosesnya, tapi karena sudah sering melihat. Maka kita anggap "mungkin". Padahal semua itu terjadi karena qudrohnya Allah, bukan kemampuan makhluk.


Iman Kepada Qudroh Allah yang Tak Terbatas


Maqom tertinggi seorang mukmin adalah ketika dia meyakini kekuasaan Allah tidak terbatas. Seperti ketika Nabi Shaleh diminta mendatangkan unta dari batu, atau ketika Nabi Ibrahim tidak terbakar meski dilempar ke api. Semua itu untuk menunjukkan bahwa mukjizat bukan untuk pamer, tapi untuk mengingatkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.


Penutup: Kita Dimana Saja, Tetap Hamba Allah


"Negeri ini milik Allah. Semua hamba juga milik Allah. Maka jika kamu menemukan kebaikan di suatu negeri, tinggallah di sana."


Baik muslim maupun non-muslim, semua adalah manusia yang perlu diperlakukan dengan baik. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya untuk umat Islam.


"Dan berkatalah yang baik kepada semua manusia."

(QS. Al-Baqarah: 83)


Sebagai perantau muslim, tugas kita bukan hanya menjaga iman, tapi juga menjadi hamba yang menebar rahmat dan kasih sayang. Dimanapun kita berada.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Waktu Ngaji Ndalem Diubah? Sebuah Asumsi dari Sudut Santri

Pemberangkatan PPL MKM: Wejangan dari KH. Hasan Agil

Mbah Salim Singoyudan: Alumni Pondok mBulus Th 1972