Nabi yang “Ummi” dan Al-Qur’annya
Waktu Dhuhur, 8 Ramadhan 1447 H. Matahari tidak terasa terik di halaman Pondok Al Iman Bulus. Al-Ustadz Hasan mengkaji Fadhlus Sholat was Salam ‘ala Rasulillah ringkasan dari Jala al-Afham fi Fadhl al-Shalah wa al-Salam karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah.
Di muqaddimah disebut satu sifat Nabi ﷺ yang sering terdengar, namun jarang direnungi: ummi.
Apa Makna “Ummi”?
Mayoritas mufassir seperti dalam Tafsir al-Tabari dan Tafsir Ibn Kathir memahami ummi sebagai tidak membaca dan tidak menulis. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-‘Ankabut: 48: Nabi ﷺ tidak pernah membaca kitab sebelumnya dan tidak menulisnya dengan tangan beliau.
Sebagian ulama memilih berhenti pada lafaznya tanpa memperluas makna, namun tetap dalam keyakinan Ahlus Sunnah bahwa beliau tidak belajar baca-tulis sebagaimana manusia pada umumnya.
Lalu Bagaimana dengan Mudarasah Ramadhan?
Dalam riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan bahwa setiap Ramadhan Nabi ﷺ bermudarasah Al-Qur’an bersama Jibril, dan pada tahun wafatnya dilakukan dua kali.
Bagaimana mungkin, jika beliau ummi?
Jawabannya ada dalam QS. Al-Qiyamah: 17–19:
“Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya.”
Para mufassir menjelaskan bahwa Allah sendiri yang menjamin pengumpulan dan penjagaan wahyu di dalam dada Nabi ﷺ. Beliau menerima, menghafal, dan menyampaikan wahyu dengan penjagaan langsung dari Allah.
Al-Qur’an bukan hasil proses literasi manusia, melainkan wahyu yang terjaga.
Analogi untuk Mendekatkan Makna
Tentu ini hanya pendekatan analogi untuk memudahkan pemahaman, bukan penyamaan hakikat wahyu dengan pengalaman manusia.
1️⃣ Ibu dan Resep Masakan
Seorang ibu yang sudah sangat menguasai masak sayur asem tidak lagi membuka buku resep. Takaran, rasa, dan waktu sudah melekat dalam ingatan. Ia tidak membaca, tetapi ia menguasai.
2️⃣ Santri dan Jalan ke Pondok
Santri yang pulang ke pondoknya tidak perlu membuka peta atau melihat petunjuk arah. Belokan demi belokan sudah tersimpan dalam kepala. Ia berjalan tanpa ragu, karena jalannya telah terjaga dalam ingatan.
Jika dalam urusan dunia saja manusia bisa sampai pada tahap “melekat dalam ingatan”, maka pada diri Nabi ﷺ, penjagaan wahyu itu jauh lebih sempurna karena dijamin langsung oleh Allah.
Di Sini Letak Mukjizatnya
Seandainya Nabi ﷺ mampu membaca dan menulis, orang bisa saja menuduh Al-Qur’an sebagai hasil bacaan atau pengaruh literatur sebelumnya. Namun sejarah dan riwayat sahih menunjukkan beliau adalah nabi yang ummi.
Dari seorang yang tidak belajar baca-tulis, lahir Al-Qur’an yang menundukkan para ahli bahasa Arab. Justru di situlah kemurnian dan kemukjizatannya.
Sebagaimana disebut dalam QS. Al-A‘raf: 157 tentang an-nabiy al-ummi, sifat itu bukan kekurangan, melainkan bagian dari hikmah ilahi untuk menampakkan keaslian wahyu.
Refleksi Ramadhan
Hari ini kita bisa membaca, menulis, dan mengakses ribuan kitab digital. Tetapi pertanyaannya bukan lagi “bisa atau tidak”, melainkan: sudahkah Al-Qur’an benar-benar masuk ke dada kita?
Jangan sampai: Al-Qur’an mudah diakses, tetapi tidak pernah benar-benar kita hayati. Nabi yang ummi itu dijaga hafalannya oleh Allah. Kita yang melek huruf, semestinya malu jika jauh dari Al-Qur’an.
(Tulisan ini hanya refleksi penulis dari beberapa poin yang didapat saat ngaji)
Komentar
Posting Komentar