Membaca Jalan, Membaca Kehidupan: Catatan Santri dari Terminal ke Terminal
Dalam dunia santri, perjalanan bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan juga proses belajar. Kami bukan hanya menuntut ilmu dari kitab dan guru, tapi juga dari jalanan yang penuh peristiwa, wajah asing, dan keputusan-keputusan cepat. Pengalaman ini terjadi saat aku dan teman-teman menjadi utusan musyawarah dari pondok asal menuju pondok lain, lalu pulang kembali. Jalur yang kami lewati bukan jalur wisata, tapi jalur rakyat. Dari Trans Jateng ke Trans Jogja, lanjut ke bus antar kota, hingga bertemu Terboyo—terminal yang tidak tidur, tapi penuh dinamika.
Siang Hari: Panas, Bus Tua, dan Pertunjukan Amplop
Kami berdua turun dari bus kecil, langsung disambut calo yang antusias. Seperti sudah tahu kami bukan orang lokal. Diarahkan ke bus tua yang tampak ngos-ngosan, kami diminta naik dan menunggu di dalam. Panas bukan main, kipas angin cuma pajangan, dan suasananya muram. Tapi bukan itu yang membuatku kaget—di bagian belakang, ada sekelompok emak-emak dan anak-anak. Mereka tampak seperti penumpang, tapi ternyata bagian dari ‘pertunjukan’.
Saat waktu hampir berangkat, anak-anak itu menyebar membagikan amplop ke seluruh penumpang. Isinya permohonan sedekah dan doa. Emaknya mulai bernyanyi sambil bertepuk tangan, menciptakan atmosfer campur aduk antara iba dan ketidaknyamanan. Setelah selesai, mereka menarik amplop satu per satu. Aku kasih lima ratus rupiah, temanku nggak kasih apa-apa. Katanya, “Udah biasa, nanti muncul lagi versi lain.”
Malam Hari: Terboyo dan Warung yang Jadi Benteng
Pulangnya kami berempat—dua dari Purworejo, dua dari Wonosobo. Temanku yang berpengalaman mengingatkan, “Kalau udah nyampe Terboyo malam-malam, jangan langsung cari bus. Mampir warung dulu. Kata senior, kadang di situ malah ada yang bisa bantuin.”
Kami menurut. Duduk di warung sederhana milik mas-mas bertopi putih. Penampilannya kalem, usia tak jauh dari kami. Kami pesan kopi, ngerokok, istirahat. Masnya ngobrol ringan, tanya-tanya asal dan tujuan. Begitu tahu kami santri, ia langsung nawarin: “Kalau mau, ada mobil pribadi. Empat ratus ribu, langsung diantar sampai pondok masing-masing. Supirnya dulu juga pernah nyantri.”
Awalnya kami ragu. Tapi setelah berpikir dan menimbang, akhirnya kami sepakat. Masnya nelpon sopir, dan tak lama orangnya datang. Tapi sebelum mobil sempat jalan, datang seorang pria lain, tampak marah, mengancam: “Siapa yang nyuruh kamu ngangkut penumpang? Jangan ambil penumpang orang!”
Mas sopir menyebut nama mas warung. Pria itu pergi sambil mengumpat. Dunia bawah terminal memang punya aturan tak tertulis, dan kami melihatnya secara langsung malam itu. Tak ada polisi. Tak ada seragam. Tapi semua orang tahu siapa yang ‘punya tempat’, siapa yang boleh ‘berdagang penumpang’.
Mobil melaju meninggalkan terminal. Sopir meminta kami tak terlalu mencolok, bahkan menyarankan tak menggantung tas agar tak disangka calon penumpang. Di tengah perjalanan, ia nelpon mas warung. Suaranya serius. Sepertinya mereka sudah paham siapa yang menghadang tadi.
Kami diantar sampai tujuan. Tak ada insiden. Tapi kesan yang tertinggal lebih dalam daripada sekadar lelah.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
1. Realitas Jalanan Tak Selalu Sesuai Brosur
Banyak orang membayangkan perjalanan antarkota sebagai sesuatu yang indah: naik bus malam, tidur di kursi, bangun sudah sampai tujuan. Tapi kenyataan bagi santri atau rakyat kecil berbeda. Bus bisa tak layak, terminal bisa penuh tekanan sosial, dan keputusan harus cepat—salah pilih bisa menyesal.
2. Terminal Tak Hanya Soal Transportasi, Tapi Juga Ekosistem Sosial
Terboyo adalah contoh nyata bahwa terminal bisa menjadi ‘ladang’ bagi banyak kelompok: calo, pengamen, pemilik warung, supir freelance, hingga pihak yang mengatur zona kekuasaan. Santri yang cermat akan melihat ini sebagai pelajaran: bagaimana ekosistem informal bekerja di luar sistem resmi.
3. Peran Warung Kecil Sebagai Titik Aman
Di tengah kekacauan, warung sederhana bisa menjadi zona netral. Di situlah kadang terjadi transaksi yang lebih jujur, informasi yang lebih akurat, dan bahkan perlindungan. Ini bukan sekadar jualan kopi, tapi juga simpul sosial yang kadang lebih tangguh dari petugas resmi.
4. Jalanan Mengajarkan Keberanian dan Kearifan
Keputusan memberi atau tidak memberi amplop. Menolak calo atau menurut. Menyambut tawaran warung atau cari bus sendiri. Semua itu bagian dari pendidikan hidup yang tak tertulis. Sebagai santri, kami tidak hanya belajar fikih dan akhlak dari kitab, tapi juga dari terminal.
Penutup: Jalanan adalah Kitab Terbuka
Kami pulang ke pondok dengan banyak cerita. Tentang calo yang berlagak pemandu. Tentang emak-emak yang bersenandung sambil minta sedekah. Tentang mas-mas warung yang jadi penyelamat. Tentang ancaman di terminal dan solusi dari yang tidak berseragam.
Dalam perjalanan itu, kami belajar bahwa menjadi santri tak hanya bisa membaca kitab kuning, tapi juga membaca isyarat jalanan, membaca wajah-wajah, dan membaca situasi. Karena di luar pondok, hidup adalah kitab terbuka yang terus menunggu dibaca—dan dipahami.
Komentar
Posting Komentar