Seni Melawan Setan dan Nafsu

 

Melawan setan dan nafsu itu bukan soal adu kuat, apalagi pamer kesalehan. Lebih sering, ia adalah soal cara bersikap. Soal membaca situasi, mengatur ritme, dan tahu kapan harus melangkah meski hati ingin berhenti. Karena itu, melawan setan dan nafsu lebih tepat disebut seni, bukan sekadar perang.

Dalam hidup sehari-hari, terutama di lingkungan pesantren yang kegiatannya padat, dua musuh ini hampir tidak pernah absen. Setan dan nafsu tidak datang bersamaan, tapi saling mengisi. Yang satu membisiki dari luar, yang satu menguatkan dari dalam.


Al-Qur’an sejak awal sudah memberi peringatan:

یَـٰبَنِیۤ ءَادَمَ لَا یَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ كَمَاۤ أَخۡرَجَ أَبَوَیۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ یَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِیُرِیَهُمَا سَوۡءَ ٰ⁠ تِهِمَاۤۚ إِنَّهُۥ یَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِیلُهُۥ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّیَـٰطِینَ أَوۡلِیَاۤءَ لِلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ


“Wahai anak Adam, jangan sampai kalian diperdaya oleh setan..."
(QS. Al-A‘raf: 27)


Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa setan melihat manusia dari arah yang manusia sendiri tidak sadari. Ia tahu kapan seseorang lelah, kapan semangat menurun, dan kapan iman sedang longgar. Karena itu, setan jarang datang membawa kejahatan yang terang-terangan. Ia lebih sering hadir sebagai nasihat yang tampak masuk akal.


“Tenang saja, kan sudah capek.”
 

“Yang penting niatnya.”
 

“Sekali ini saja tidak apa-apa.”


Godaan semacam ini tidak kasar, justru terasa manusiawi. Maka seni pertama dalam melawan setan adalah mukholafah (bersikap berlawanan). Bukan berdebat, bukan mencari pembenaran, tapi tidak mengikuti. Ketika setan mengajak menunda, kita memilih melangkah. Ketika ia menawarkan keringanan, kita memilih konsistensi.


Berbeda dengan setan, nafsu tidak datang sebagai musuh. Ia datang sebagai “aku”. Suaranya bukan bisikan asing, melainkan seperti suara hati sendiri. Karena itu, ia lebih sering dipercaya.


Nabi Yusuf ‘alaihissalam bahkan mengakui:


وَمَاۤ أُبَرِّئُ نَفۡسِیۤۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوۤءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۤۚ إِنَّ رَبِّی غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ

“...Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan...”
(QS. Yusuf: 53)


Tafsir Jalalain menegaskan bahwa nafsu itu banyak menyuruh. Setiap kali ada niat baik, selalu muncul alasan penunda: capek, malas, nanti saja. Nafsu jarang melarang kebaikan secara langsung; ia hanya mengusulkan penjadwalan ulang tanpa batas.


Karena itu, seni kedua adalah maksiat kepada nafsu. Kedengarannya aneh, tapi justru di situlah ketaatan bekerja. Ketika nafsu ingin berhenti, kita memilih lanjut. Ketika nafsu ingin nyaman, kita memilih cukup.


Prinsip ini dirangkum dengan sangat indah oleh Imam al-Bushiri dalam Burdah-nya:


وخالفِ النفسَ والشيطانَ واعصِهِما 
وإن هما محضاكَ النصحَ فاتهم

“Selisihilah nafsu dan setan, dan jangan taati keduanya;
bahkan jika keduanya tampak memberi nasihat yang baik, tetaplah curigai.”


Inilah inti seni itu: tidak semua yang terasa baik harus diikuti, dan tidak semua yang terasa berat harus dihindari. Kadang, jalan yang paling mendidik justru yang membuat nafsu sedikit kecewa.


Melawan setan dan nafsu juga bukan berarti memaksakan diri tanpa batas. Para ulama memahami malam sebagai waktu memejamkan mata secukupnya, tetap tidur di malam hari, cukup untuk memulihkan tenaga, bukan untuk menenggelamkan terang-indahnya waktu pagi hari. 


Banyak juga ulama hanya tidur beberapa jam, bukan karena meremehkan istirahat, tetapi karena mereka tahu batas “cukup”. Seni di sini adalah disiplin, bukan ekstrem.


Penutup

Melawan setan dan nafsu bukan tentang menjadi manusia sempurna. Ia tentang tidak mudah nurut. Tentang memilih sadar di saat ingin lalai, dan memilih lanjut di saat ingin berhenti.


Pendekar legendaris ilmu alat dari tanah Andalus, Spanyol, masyhur dikenal dengan Imam Ibnu Malik berkata:


لا أقعد الجبن عن الهيجاء

ولو توالت زمر الأعداء


"Aku tidak akan tinggal-duduk karena takut (jawa: kucur) dalam pertempuran, meskipun gelombang musuh datang bertubi-tubi." 


Dua musuh besar itu tidak selalu kalah oleh kekuatan besar, tetapi sering tumbang oleh keputusan-keputusan kecil yang konsisten: menyelisihi setan, dan tidak menuruti nafsu.

Dan di situlah seni itu bekerja: sunyi, sederhana, tapi menentukan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Waktu Ngaji Ndalem Diubah? Sebuah Asumsi dari Sudut Santri

Pemberangkatan PPL MKM: Wejangan dari KH. Hasan Agil

Mbah Salim Singoyudan: Alumni Pondok mBulus Th 1972