Seni Melawan Setan dan Nafsu
Melawan setan dan nafsu itu bukan soal adu kuat, apalagi pamer kesalehan. Lebih sering, ia adalah soal cara bersikap . Soal membaca situasi, mengatur ritme, dan tahu kapan harus melangkah meski hati ingin berhenti. Karena itu, melawan setan dan nafsu lebih tepat disebut seni , bukan sekadar perang. Dalam hidup sehari-hari, terutama di lingkungan pesantren yang kegiatannya padat, dua musuh ini hampir tidak pernah absen. Setan dan nafsu tidak datang bersamaan, tapi saling mengisi. Yang satu membisiki dari luar, yang satu menguatkan dari dalam. Al-Qur’an sejak awal sudah memberi peringatan: یَـٰبَنِیۤ ءَادَمَ لَا یَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ كَمَاۤ أَخۡرَجَ أَبَوَیۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ یَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِیُرِیَهُمَا سَوۡءَ ٰ تِهِمَاۤۚ إِنَّهُۥ یَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِیلُهُۥ مِنۡ حَیۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّیَـٰطِینَ أَوۡلِیَاۤءَ لِلَّذِینَ لَا یُؤۡمِنُونَ “Wahai anak Adam, jangan sampai kalian diperdaya oleh setan..." (QS. Al-A‘raf: 27) Dalam Tafs...